Bagaimana Permen dan Gula Bisa Mengubah Suasana Hati

Saat Otak Butuh “Manis”, Bagaimana Permen dan Gula Bisa Mengubah Suasana Hati?

Pernahkah kalian merasa lebih bersemangat setelah menikmati permen saat sedang suntuk? Pengalaman tersebut ternyata bukan sekadar sugesti. Otak manusia memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan rasa manis. Sejak lahir, manusia secara alami menyukai rasa manis karena rasa tersebut menandakan adanya sumber energi yang aman dan mudah dimanfaatkan oleh tubuh. Tidak heran jika makanan dan minuman manis sering dikaitkan dengan rasa nyaman, bahagia, bahkan menjadi “mood booster” bagi banyak orang.

Namun, bagaimana sebenarnya gula dan permen dapat memengaruhi suasana hati? Apakah efek tersebut benar-benar berasal dari otak, atau hanya karena kita menyukai rasanya? Mari kita bahas lebih dalam.

Otak Membutuhkan Energi dan Glukosa Menjadi Bahan Bakar Utamanya

Otak merupakan salah satu organ yang paling aktif di dalam tubuh. Meskipun beratnya hanya sekitar 2% dari total berat badan, otak menggunakan sekitar 20% energi yang dihasilkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi, mulai dari berpikir, mengingat, mengatur emosi, hingga mengendalikan gerakan. Energi utama yang digunakan otak berasal dari glukosa, yaitu bentuk sederhana dari karbohidrat dari makanan.

Karbohidrat yang dikonsumsi akan dipecah menjadi glukosa sebelum digunakan sebagai sumber energi. Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa glukosa merupakan bahan bakar utama bagi otak sehingga ketersediaannya sangat penting untuk menjaga fungsi kognitif dan aktivitas sehari-hari.

Ketika kadar energi mulai menurun, tubuh secara alami akan mencari makanan yang mampu menyediakan glukosa dengan cepat. Salah satu sumber yang paling mudah dikenali adalah makanan dengan rasa manis. Inilah alasan mengapa banyak orang secara spontan menginginkan permen ketika sedang mengantuk atau membutuhkan dorongan energi.

Mengapa Rasa Manis Terasa Menyenangkan?

Menikmati makanan manis tidak hanya memberikan energi, tetapi juga memicu serangkaian respons biologis di dalam otak. Saat gula menyentuh lidah, reseptor pengecap akan mengirimkan sinyal menuju berbagai area otak yang berhubungan dengan rasa nikmat dan penghargaan (reward system).

Salah satu zat kimia yang berperan penting dalam proses ini adalah dopamin, yaitu neurotransmiter yang berkaitan dengan motivasi, rasa senang, dan penghargaan. Ketika seseorang mengonsumsi makanan manis, pelepasan dopamin meningkat sehingga muncul sensasi puas dan menyenangkan. Mekanisme inilah yang membuat sebutir permen sering kali terasa mampu memperbaiki suasana hati dalam waktu singkat.

Mengapa Permen Sering Menjadi Pilihan Saat Sedang Stres?

Banyak orang tanpa sadar meraih permen ketika menghadapi pekerjaan yang menumpuk, belajar menjelang ujian, atau mengalami hari yang melelahkan. Kebiasaan ini ternyata memiliki dasar ilmiah.

Menurut Jacques dan rekan-rekan (2019), konsumsi gula dapat berinteraksi dengan sistem yang mengatur stres dan emosi, bisa disebut sebagai sistem penghargaan (reward system). Aktivasi sistem penghargaan (reward system) di otak membantu menghasilkan sensasi nyaman sehingga makanan manis sering diasosiasikan dengan pengalaman positif. Efek tersebut dapat membuat seseorang merasa lebih rileks atau sedikit lebih tenang setelah mengonsumsi makanan manis.

Selain itu, rasa manis juga sering dikaitkan dengan berbagai pengalaman menyenangkan sepanjang hidup. Permen identik dengan hadiah masa kecil, perayaan ulang tahun, hari raya, atau momen berbagi bersama keluarga dan teman. Kombinasi antara respons biologis di otak dan kenangan emosional tersebut membuat permen mampu menghadirkan rasa nyaman yang lebih besar dibandingkan sekadar kandungan gulanya saja.

Mengapa Kita Sulit Menolak Rasa Manis?

Dari sudut pandang evolusi, ketertarikan manusia terhadap rasa manis sebenarnya merupakan mekanisme bertahan hidup. Pada masa ketika sumber makanan tidak selalu tersedia, makanan yang manis menandakan adanya karbohidrat yang dapat segera diubah menjadi energi. Oleh karena itu, otak berevolusi untuk memberikan “reward” berupa rasa senang ketika kita menemukan makanan manis.

Mekanisme tersebut masih dimiliki manusia modern hingga saat ini. Walaupun lingkungan sudah berubah dan makanan tersedia dengan lebih mudah, sistem penghargaan (reward system) di otak tetap merespons rasa manis sebagai sesuatu yang bernilai.

Inilah sebabnya mengapa permen tidak hanya disukai anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Sensasi manis mampu memberikan pengalaman sensorik yang sederhana, menyenangkan, dan familiar sehingga sering kali menjadi pilihan untuk menemani berbagai aktivitas sehari-hari.

Sebagai industri maklon permen, PT Inasentra Unisatya berkomitmen mendukung pengembangan produk hard candy dan gummy yang inovatif. Dengan dukungan keahlian tim R&D, kami membantu mewujudkan produk permen yang memiliki tampilan menarik, cita rasa yang menyenangkan, tekstur yang sesuai, serta kualitas yang memenuhi ekspektasi pasar dan mengikuti tren industri.

 

 

Daftar Pustaka

 

Harvard T.H. Chan School of Public Health. (n.d.). The Nutrition Source – Carbohydrates. https://nutritionsource.hsph.harvard.edu/carbohydrates/

Jacques, A., Chaaya, N., Beecher, K., Ali, S. A., Belmer, A., & Bartlett, S. (2019). The impact of sugar consumption on stress driven, emotional and addictive behaviors. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 103, 178–199. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2019.05.021

Weiher, L. (n.d.). How does sugar influence our brain? Max Planck Institute for Metabolism Research. https://www.sf.mpg.de/2078394/How-does-sugar-influence-our-brain

Scroll to Top