Indonesia saat ini tengah menghadapi kondisi darurat diabetes, sebuah krisis kesehatan serius yang kini tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga merambah ke usia anak-anak. Data menunjukkan bahwa diperlukan langkah nyata dalam mengubah pola konsumsi masyarakat, salah satunya dengan memanfaatkan tanaman stevia sebagai pengganti gula alami yang lebih sehat.
Kondisi diabetes di Indonesia telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) tahun 2025, Indonesia menempati peringkat ke-5 dunia dengan jumlah penderita diabetes terbesar. Fenomena yang paling mengejutkan adalah lonjakan kasus pada anak-anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat bahwa prevalensi anak penderita diabetes pada Januari 2023 meningkat 70 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2010.
Tingginya angka ini sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, terutama tingginya konsumsi makanan dan minuman manis yang sangat mudah dijangkau oleh masyarakat tanpa pengawasan ketat. Jika tidak segera ditangani melalui regulasi dan perubahan pola makan, peningkatan kasus ini dikhawatirkan akan terus membebani biaya kesehatan negara secara signifikan.
Untuk mencegah peningkatan angka diabetes, masyarakat didorong untuk melakukan diet seimbang, termasuk membatasi asupan gula maksimal 4 sendok makan (50 gram) per hari. Di sinilah Stevia rebaudiana berperan penting sebagai alternatif.
Stevia adalah tanaman semak asli Paraguay yang daunnya mengandung senyawa aktif bernama glikosida steviol. Keunggulan utama stevia dibandingkan gula tebu biasa adalah:
Nol Kalori: Stevia memberikan rasa manis yang kuat (70-400 kali lipat dari gula biasa) namun tanpa mengandung kalori sama sekali.
Tidak Memengaruhi Gula Darah: Berbeda dengan gula pasir yang memicu lonjakan glukosa darah, stevia aman bagi penderita diabetes karena tidak memengaruhi kadar gula darah setelah dikonsumsi.
Efek Medis Tambahan: Penelitian menunjukkan bahwa komponen steviosid dalam stevia memiliki efek antihiperglikemik yang meningkatkan respon insulin serta potensi sebagai antihipertensi yang dapat menurunkan tekanan darah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan pengawas internasional telah menyatakan bahwa stevia aman untuk dikonsumsi sebagai tambahan pangan. Batas asupan harian yang diperbolehkan (Acceptable Daily Intake/ADI) adalah 4 mg per kilogram berat badan per hari.
Dengan meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia secara drastis, tindakan preventif menjadi hal yang sangat mendesak, untuk itu pengaplikasian alternative pengganti gula. Tanaman stevia menawarkan solusi strategis bagi masyarakat untuk tetap menikmati rasa manis tanpa risiko kesehatan yang menyertai gula pasir tradisional. Penambahan tanaman stevia kedalam produk pangan menjadi alternatif yang sangat menarik di semua kalangan terutama para remaja. Salah satu produk pangan yang berpotensi dikembangkan yaitu permen. Penggunaan stevia sebagai pengganti gula dalam formulasi permen tidak hanya memberikan rasa manis yang optimal, tetapi juga menghasilkan produk permen bebas gula (sugar free) yang lebih sesuai dengan tren gaya hidup sehat.
Untuk hal ini, PT Inasentra Unisatya membuka peluang untuk para calon costumer yang ingin membuat permen dengan kandungan nutrisi atau extrak lainnya atau biasanya kami sebut maklon / OEM Permen. Saat ini tersedia beberapa jenis permen dengan berbagi jenis permen, diantaranya permen Hard Candy dan Gummy.
Source :
https://unitkesehatan.ipb.ac.id/hari-diabetes-sedunia-2025-diabetes-across-life-stages/
